Konsultan Nagari Adat Tangkis Serangan

Limapuluh Kota, --Tim konsultan program revitalisasi nagari adat di Kabupaten Limapuluh Kota, menangkis ‘serangan’ sejumlah tokoh masyarakat yang menyebut, program tersebut sarat dengan kepentingan politik. Utamanya, memenangkan kandidat bupati tertentu dalam Pilkada 2010 mendatang. “Kami memang pernah mendengar, adanya sinyalemen seperti tadi. Tapi sampai sekarang, pelaksanaan program revitalisi nagari adat masih murni. Tidak ada pesanan politik. Kalau tak percaya, silakan tanya langsung ke nagari,” kata Yulfian Azrial, anggota tim konsultasi nagari adat kepada sejumlah wartawan, Senin (29/6) siang.

Didampingi Ismet Fauzi, rekannya sesama tim konsultasi nagari adat, Yulfian Azrial menambahkan, program revitalisasi nagari adat di Kabupaten Limapuluh Kota, memang tidak bisa dipungkiri, memiliki unsur politis. Tapi, politisnya bukan untuk perebutan kekuasaan. “Melainkan, politik untuk kembali membangkit batang tarandam. Mengembalikan kejayaan Minangkabau, khususnya Luhak Limopuluah tempoe doeloe. Apalagi, dalam nagari adat yang berdaulat adalah masyarakat,” imbuh pria dengan nama pena Yum AZ tersebut.

Ismet Fauzi menambahkan, sejauh ini program revitalisasi nagari adat yang disandingkan dengan program babaliak ka surau, sudah dilaksankan dan mulai berjalan dengan baik pada 13 nagari di Kabupaten Limapuluh Kota. “Rencananya, tahun ini akan disusul pada 40 nagari lain. Dengan demikian, sampai Desember mendatang, kami akan turun ke nagari-nagari untuk melakukan sosialisi,”ujar Ismet Fauzi, yang juga anggota DPRD Limapuluh Kota dari Partai Golkar tersebut.

Adapun mengenai dana program revitalisasi nagari adat, menurut Kabag Kesra Pemkab Limapuluh Kota Idarussalam yang ikut hadir dalam kesempatan tersebut, sudah diangggarkan. Walaupun tidak besar, tapi setidaknya bisa menjadi “dopping” bagi nagari-nagari. Pelaksanaan revitalisasi nagari adat sendiri, memang cukup mendapat perhatian serius dari Bupati Amri Darwis dan Wakil Bupati Irfendi Arbi. Sejauh ini, pelaksanaannya cukup mendapat sambutan hangat. Bahkan, sejumlah daerah di Sumbar telah berkunjung untuk study banding ke nagari adat yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota.

Program nagari adat sendiri, pertama kali dicanangkan dari nagari Situjuahbatua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Disusul nagari Taram, Kecamatan Harau, dan nagari-nagari lain. Khusus untuk Situjuahbatua, pelaksanaannya sampai sekarang masih dianggap paling baik, oleh tim konsultan dan Pemkab Limapuluh Kota. Dalam pencanangan nagari adat, segenap komponen nagari yang menjadi pilot projej atau percontohan, menyampaikan sejumlah tekad atau kesepakatan untuk dita’ati bersama. Diantaranya, sebagaimana dilakukan di Situjuahbatua, setiap anak nagari yang berada di tempat-tempat keramaian, diwajibkan menutup aurat.

“Kemudian, niniak mamak sebagai kepala kaum, harus berbusana muslim dan memakai peci. Lalu, masyarakat diwajibkan menegakkan Sholat, membaca Al-qur’an setiap malam, dan menghindari maksiat. Bila mereka melanggar, disiapkan dubalang dan paga nagari untuk mengawasi,’kata Pucuak Adat Situjuah Batua MKH Dt Majo Kayo, beberapa waktu lampau. Disamping itu, kata MKH Dt Majo Kayo, masyarakat Situjuah Batua juga dilarang untuk terlibat dalam segala bentuk permainan (koa, remi, domino), selama hari Kamis sore sampai Jum’at malam, setiap minggunya.

Masih berkaitan dengan permainan dan warung, setiap ada wirid pengajian atau acara di Masjid, masyarakat diminta untuk menutup warung dan menghentikan permainan, kemudian hadir beramai-ramai ke dalam masjid
dikutip dari http://www.padangekspres.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=7953

wdcfawqafwef