Rindu pada Orang Tua, tapi tak berani Pulang Kampung


Curhat Putra/Putri Petani Gambir (jilid 1)

"Cala jan pulang lu le nak, beko kalau pulang, ndo lai ongkos untuak baliak le"

Sungguh tidak pernah terbayangkan bagi sebagian pelajar dari Muaro Paiti, Kapur Sembilan umumnya, sekian lama di negeri orang merantau untuk melanjutkan pendidikan, sudah rindu akan kampung tercinta rasanya, rindu bersua dengan Orang tua, keluarga dan rindu dengan suasana kampung yang masih sejuk untuk dinikmati.
Beberapa bulan terakhir, harga gambir menurun drastis, krisis ekonomi yang hebat terjadi di Kapur IX, semua itu sangat berdampak pada kehidupan masyarakat Kapur Sembilan, semua kalangan merasakan itu, begitu juga dengan para pelajar yang sekolah/kuliah di negeri orang, sebagian besar mahasiswa dan pelajar dari kapur sembilan masih mengharapkan kiriman dari orang tua di kampung, meski ada juga sebagian kecil yang mandiri di negeri orang.
Sebentar lagi bulan puasa akan tiba, hari raya pun akan menyusul kita, diperkirakan jika harga gambir tetap tidak kembali normal, entah bagaimana nasib Kecamatan Kapur sembilan yang pencarian hidup tergantung pada kebun gambir.
Mahasiswa yang kuliah di negeri orang berfikir dua kali untuk pulang kampung karena memikirkan ongkos, bagi yang kuliah masih di sumatera barat dan riau, bisalah disakit sakitkan juga pulang, tapi bagaimana dengan mahasiswa yang di pulau jawa, dan bahkan di sulawesi sana, sudah lama tidak bersua dengan orang tua, ada keinginan untuk pulang, setiap saat telpon berdering dari kampung, cuma bisa berkata, "tarogak kami samo anak", tapi jangan pulang dulu lah, tunggu harga gambir normal dulu, takutnya, bisa pulang sebentar, untuk balik ke tempat kuliah nanti pakai apa, tak ada uang lagi untuk ongkos, harus berfikir lebih dalam.
Semoga saja harga gambir cepat normal kembali, sebab itu akan sangat berpengaruh pada semua pihak di Kapur Sembilan. Semoga saja, amiin.

wdcfawqafwef