Padang Malam Hari (1) : Wanita Taksi yang Aduhai

Setelah peristiwa tertangkapnya dua penari telanjang di Padang, warga penasaran bagaimana sesungguhnya kota ini di malam hari. Berikut laporan “Kehidupan Malam Kota Padang,” ditulis wartawan Singgalang, Guswandi dan Deri Okta Zulmi.

***
Kita mulai dari praktik prostitusi pinggir jalan yang seakan menantang petugas dan masyarakat.
Sore menjelang malam, Jalan Diponegoro, masih sepi aktivitas.
Hanya angkot dan kendaraan pribadi lainnya hilir mudik, tidak ada bedanya dengan jalan-jalan lainnya.
Beranjak malam, suasana mulai berubah drastis. Terutama hadirnya taksi berwarna biru yang terus berputar-putar di sekitar jalan itu. Sepintas lalu memang tidak aneh, tapi jika teliti dengan seksama di dalam taksi, terdapat wanita-wanita seksi yang duduknya di samping sopir dan tertutup kaca film yang gelap.
Tepat di depan Taman Budaya, salah satu taksi tiba-tiba berhenti mendekati mobil yang lebih duluan berhenti. Lima menit berselang, dari percapakan yang hanya melewati kaca mobil itu, janji telah dibuat. Mobil sejenis avanza yang berhenti tadi langsung tancap gas, dan diikuti langsung taksi yang membawa wanita seksi itu.
Tidak berapa lama kemudian, satu unit motor yang diboncengi dua orang pemuda tanggung berhenti di tempat yang tidak jauh beda. Seperti gula yang dikerumuni semut, salah satu taksi kembali mendekat dan berhenti didekat kedua pemuda tersebut.
Namun kali ini, negosiasi berlangsung alot dan memakan waktu yang lama. Terlihat taksi meninggalkan pengendara motor tadi, tapi kedua pemuda masih tetap di sana dan kembali negosiasi dengan sopir taksi berikutnya.
Mendekati tengah malam, jumlah taksi makin bertambah. Wanita yang berada didalamnya kian berani, dan tidak sungkan melambaikan tangannya kepada pengendara yang melewati daerah itu.
Dari puluhan wanita yang beroperasi di daerah itu, Singgalang mendapat kesempatan berkenalan dengan salah seorang dari mereka.
Sebut saja Sonya namanya. Wanita berumur 20-an tergolong paling cantik dari beberapa wanita malam lainnya.
Meski awalnya Sonya tidak mengaku seorang PSK, tapi akhirnya wanita asal Jambi ini mau juga membuka diri. Dikisahkannya, pertama kali ia terjun ke dunia hitam ini sekitar 2007 lalu.
Saat itu, ia ditinggal suami walau sedang mengandung tujuh bulan.
Dengan kondisi mengandung, ia kian kemari mencari pekerjaan. Tapi tak satupun yang menerima. Mau mengadu kepada keluarga malu, karena pernikahannya tidak restui.
“Saat itu butuh uang. Tidak saja untuk makan, tapi juga untuk biaya kelahiran anak,” kata wanita yang mengaku sudah pernah ditangkap Satpol PP itu.
Dipesan bule
Pertama kali ia mendapat tawaran untuk “menjual” tubuhnya saat ia diajak salah seorang temannya. Ada seorang bule yang ingin mencoba sensasi wanita hamil. Mendapat tawaran itu, Sonya bingung bukan kepalang.
“Karena kelahiran anak makin mendesak, saya akhir menerima dan berjanji hanya sekali ini saja melakukannya,” jelasnya.
Saat itu, Sonya menerima uang jasa Rp1 juta. Bukan main senangnya mendapat uang, dan itu pula membuat ia mengambil keputusan untuk menerjuni profesi maksiat itu.
Diakuinya, dari sekian banyak rekan-rekan seprofesi rata-rata berasal dari wilayah Sumbar juga dan penyebabnya juga karena faktor ekonomi.
Sonya hanya segelintir dari puluhan wanita malam yang menggantungkan hidup dari tubuhnya. Mereka melayani lelaki hidung belakang yang rata-rata ekonominya menengah ke bawah.
Setiap malam, kadang mereka harus melayani dua sampai tiga laki-laki.
Tapi juga ada yang sampai pagi tidak ada peminat. Biasanya PSK yang sudah berumur dan dikategorikan kurang seksi, sepi order.
Sonya juga mengatakan, kebanyakan dari mereka dibawa konsumen ke beberapa hotel melati yang ada di Padang. Namun ada juga yang melakukan di atas taksi, sambil mengajak berkeliling. “Permintaan pelanggan kan aneh-aneh, ada juga yang mau cari sensasi di dalam taksi,” katanya sambil malu-malu.
Pembicaraan terputus, setelah Sonya minta pamit dan berlalu entah kemana.
Dari pembicaraan singkat tadi, terlihat Sonya sudah tidak peduli lagi dengan apa kata orang dan bagaimana pendapat orang. Ia hanya tahu bagaimana cara untuk bertahan hidup dan membesarkan anaknya.
Jika memang mau memberantas pekat di daerah ini, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menempatkan petugas yang standby di jalan itu dari sore hingga pagi hari. Jika itu tidak dilakukan, jangan harap praktik kotor itu akan hilang dari Jalan Diponegoro.
Karena selama ini razia yang dilakukan tidak pernah menimbulkan efek jera atau menurunkan minat pelaku prostitusi untuk tetap menjalankan usahanya. (sumber: hariansinggalang.co.id)

wdcfawqafwef