Padang Malam Hari (3) : Wanita Penghangat di Keremangan Muaro



Puas menyusuri ‘rahasia’ dunia malam di Jalan Diponegoro, Singgalang mencoba mengungkap di balik kafe yang berada di seputaran Jembatan Siti Nurbaya.
Sinar keemasan terpancar indah dari ufuk Barat, debur ombak makin keras terdengar. Satu persatu kapal tampak meninggalkan dermaga masing-masing, menuju samudera nan menawarkan penghidupan. Keberangkatan para nelayan itu, tak saja diiringi doa keluarga tapi juga lantunan suara musik dari tepi Batang Arau.
Musik kian lama kian keras, seiring dengan bergantinya siang dan malam, dan terus bertambah semarak suaranya saat bulan berada di puncak. Suara musik berasal dari kafe-kafe yang hanya mengandalkan tenda untuk berlindung, di dalamnya terdapat alat musik karaoke dan minuman. Tapi, jika ingin mendapat sesuatu yang beda, tamu bisa memesan penghangat suasana, yaitu wanita yang siap ‘menggoyang’ dinginnya malam.
Dengan modal menumpang teman yang sudah biasa nongkrong di tempat itu, Singgalang mencoba mengorek sisi kehidupan wanita malam di kafe-kafe ini.
Malam itu, seorang wanita yang berumur sekitar 30-an tampak bernyanyi sendiri, sambil mengikuti lirik lagu yang ada di TV. Goyangan tubuhnya kian liar, jika ada calon tamu yang berhenti di dekat cafe itu.
Entah karena goyangannya, ada beberapa pemuda yang masuk dan duduk di tempat itu. Mereka terlihat memesan minuman bir beberapa botol.
Seusai menaruh minuman di atas meja, wanita itu kembali bernyanyi tapi kali ini ia mencoba mengajak tamunya tadi untuk ikut bergoyang. Tapi sang tamu tampak menolak, dan meminta microfon untuk mereka sendiri.
Melihat kondisi itu, Singgalang mencoba mendekati wanita itu dan mencoba bercengkrama. Sebut saja Ita namanya. Ia seorang ibu yang mempunyai satu anak. Ia menekuni profesi ini, sejak dua tahun lalu.
“Penghasilan suami tidak menentu, karena kerjanya serabutan. Makanya harus mencari tambahan. Saya juga bekerja di sini bukan pemilik tempat,” katanya.
Setiap malam ia mulai bekerja dari pukul 20.00 hingga 03.00 WIB. Selain mendapat gaji tetap dari sang pemilik tempat, ia juga mengaku mendapat tips dari tamu-tamu yang datang ke tempat itu.
“Hasilnya lumayan, paling tidak bisa menutupi kebutuhan keluarga. Suami tidak bisa diharapkan,” ujar wanita yang perawakannya lebih tua dari umurnya.
Setiap hari ia bisa mengantongi uang hingga Rp200 ribu, tapi uang itu harus dibagi kepada suaminya.
Ia juga mengaku suaminya tahu profesinya itu bahkan suaminya juga yang mengantar dan menjemputnya kerja.
Belum lama berbincang, salah seorang pemuda yang datang tadi memanggil Ita dan meminta menemaninya bernyanyi. Saat lagu yang dipilihnya bernada dangdut, pemuda tadi mencoba memeluk tubuh Ita. Entah apa yang ada di benak wanita itu saat itu, tapi ia seperti menikmati pelukan dan goyangan laki-laki tersebut.
Melihat temannya menikmati goyangan maut wanita Muaro itu, teman lainnya ikut larut bergoyang mengikuti musik. Pengaruh minuman menjadi penyebab mereka tidak mempedulikan orang-orang yang lewat di sekitar tempat itu.
Ita juga makin ‘gila’ setelah saweran merapat di bagian dadanya, ia kian membuat panas tempat yang pencahayaannya sangat minim itu.
Belasan botol bir telah habis ditenguk pemuda tadi, tapi mereka seakan belum akan berhenti. Singgalang mencoba bercengkrama dengan salah seorang pemilik tempat. Pria paruh baya itu terlihat angker, tapi saat diajak mengobrol ia cukup sopan menjawab.
Selama menjalankan usahanya, ia mengaku sudah berulang kali dirazia Sat Pol PP. Setiap kali dirazia, ia harus menjemput barang-barangnya ke Mako Pol PP.
“Walau sudah pernah diberi uang, tapi kita tetap juga dirazia,” jelasnya.
Dikatakannya, tidak semua tempat menyediakan wanita penghibur seperti yang terlihat. Ada juga yang hanya musik dan minuman, tapi ada kalanya tamu yang membawa wanitanya dari luar.
“Kalau ada wanita di sini yang melayani tamunya di luar tempat ini, itu bukan tanggung jawab kami. Di sini hanya ada musik dan minuman,” jelasnya.
Malam makin larut, tapi riuh suara musik seakan tiada matinya. Wanita berpakaian seksi di beberapa tempat sudah terlihat sempoyongan karena ikut minum bersama sang tamu, mereka banyak yang sudah berada di pelukan laki-laki di sampingnya. (sumber: hariansinggalang.co.id)

wdcfawqafwef