Padang Malam Hari (8) : Bisnis ‘Lendir’ Berkedok Salon

Setelah peristiwa tertangkapnya dua penari telanjang di Fellas Cafe, Padang, warga penasaran bagaimana sesungguhnya kota ini di malam hari. Berikut laporan ‘Kehidupan Malam Kota Padang’ ditulis wartawan Singgalang, Guswandi dan Deri Okta Zulmi
***

Tubuh rasanya lelah menyusuri seluk beluk kehidupan malam di Kota Padang. Untuk mengembalikan stamina tubuh, Singgalang mencoba melemaskan otot dengan cara dipijat pada salah satu tempat yang direkomendasikan seorang teman.
Tempat itu seperti rumah biasa saja, karena berada dekat pemukiman penduduk. Harus diakui tempat itu terlihat sangat mewah, dan terkesan eksklusif baik dari tampilan rumah dan kendaraan yang berada di pelantaran parkirnya.
Pertama kali masuk ke tempat itu, Singgalang langsung disambut wanita berparas cantik dan berpakaian sexy. Wah, melihat wanita itu saja sudah menggiurkan konsumen yang datang.
Tidak lama berselang konsumen langsung ditawari berbagai pilihan pemanjaan tubuh, mulai dari pijat atau biasa disebut massage dan salon beserta calon pemijatnya yang rata-rata wanita semua.
Sesuai dengan tujuan awal, Singgalang memilih pelayan pemijatan dan wanita pemijatnya.
Perbincangan pun dimulai dari salah seorang wanita di sana. Sebut saja namanya Dini, 25, (samaran). Ia berasal dari Pulau Jawa, ke Padang untuk bekerja. Tetapi ia hanya bermodalkan ijazah SMA, tidak satu pun perusahaan mau menerimanya. Ia mengakui sudah empat tahun berkerja dengan salon kecantikan di kota ini. Tak pernah sedikit pun ia berpikir akan pekerjaan ini, karena gaji di salon tidak mencukupi buat hidupnya ia pun melakukan perbuatan itu.
“Saya sebenarnya tidak mau melakukan ini, karena gaji di sini kecil jadi kebutuhan saya tidak terpenuhi,” ujar wanita berparas ayu itu.
Singgalang pun menanyakan berapa tarif untuk per-jamnya. Dini pun menjawab kalau untuk room biasa tarifnya sekitar Rp150 ribu. Tapi untuk VIP tarifnya mencapai Rp350 ribu. Itu hanya untuk room saja, kalau tamu meinginkan pelayanan lebih, tamu membayar kepada wanita yang bersangkutan.
“Biasanya kalau tamu meminta lebih, saya meminta tarif dari Rp100 ribu. Kalau tamunya pingin ML (making love) saya meminta tarif Rp500 ribu. Tapi tidak semua wanita di sini mau seperti itu” ujarnya lagi.
Dini mengatakan ada di antara temannya yang melakukan hubungan intim di dalam room itu saja. Kalau pun ada tamu yang mengajak keluar, tamu itu harus mengeluarkan biaya lebih. Dalam sehari ia bisa menemani lima sampai tujuh orang tamu, hanya waktu makan saja ia bisa beristirahat. Biasanya tamu-tamu yang hadir di sini bervariasi dan kebanyakan sudah berumur. Mungkin mereka lelah dengan pekerjaannya, lalu mencari kesenangan di sini.
Wanita berambut sebahu itu juga menceritakan duka lain yang dideritanya. Pernah satu ketika dirinya mendapat perlakuan kasar dari salah seorang konsumennya. “Saya pernah mendapatkan pengalaman pahit. Waktu itu ada seorang tamu yang kasar. Sampai-sampai dipaksa melakukan itu dengan kekerasan. Bagian pipi dan tangan saya memar,” katanya lagi.
Selama menekuni profesi ini, Dini mendapat fasilitas tempat tinggal dari pengelola salon. Mereka bekerja di tempat itu dari pagi hingga sore hari. Malamnya tempat itu memang ditutup. Tanpa terasa, waktu yang disediakan telah habis, dan pembicaraan kami berakhir.
Meski di tempat itu terjadi praktik prostitusi, tapi mampu ditutupi dengan sangat cermat, sehingga tidak diketahui orang banyak, dan lepas dari pantauan aparat terkait.

Berkedok salon
Sebenarnya, di Padang bisnis ‘lendir’ berkedok salon sudah lama ada dan merupakan rahasia umum. Pada beberapa tempat, bisnis ini bahkan dilakukan di keramaian.
Di tempat itu, masyarakat tidak akan sulit melihat secara langsung. Hanya dengan lewat di depan tempat itu saja, calon konsumen sudah dirayu dengan bahasa-bahasa yang cukup vulgar.
Beberapa layanan yang mereka sebutkan juga disampaikan secara langsung, bahkan terkesan memaksa dan ada yang menarik tangan calon konsumen.
Sepintas lalu, Singgalang melihat jumlahnya mencapai belasan orang. Meski telah beberapa kali dirazia Sat Pol PP, dan telah menyita kasur dan perlengkapan lainnya, namun tempat itu tetap juga beroperasi, dan sudah terkesan bisnis yang legal.
Hal yang lebih mencemaskan, di sekitaran tempat itu banyak anak-anak sekolah berada. Jika terus dibiarkan, ini akan berdampak buruk masa depan mereka.
Dengan keberadaan tempat itu, salon mendapat citra yang buruk dimata masyarakat meskipun tidak semua tempat seperti itu. (*)

wdcfawqafwef