Padang Malam Hari : Pergaulan Bebas Para Anak Kost

Setelah peristiwa tertangkapnya dua penari telanjang di Fellas Cafe, Padang, warga penasaran bagaimana sesungguhnya kota ini di malam hari. Berikut laporan ‘Kehidupan Malam Kota Padang’ ditulis wartawan Singgalang, Guswandi dan Deri Okta Zulmi
***

Penelusuran kehidupan malam di Padang memasuki babak akhir. Hampir semua sisi dikupas Singgalang meski masih banyak yang tersisa. Berbagai komentar nyaring terdengar, dari yang setuju kisah ini diangkat hingga yang merasa masih tabu untuk diungkapkan ke khalayak ramai.
Padahal, jika kita boleh jujur perbuatan maksiat seperti itu banyak terjadi di sekitar kita. Kadang banyak di antara kita yang menutup telinga dan mata, seakan tidak pernah tahu kejadian itu.
Kisah yang tersisa berikut ini tentang realita pergaulan bebas yang tengah merasuki generasi muda di Padang. Parahnya lagi, kebiasaan ini terjadi di sekitar kita dan banyak orang yang mengambil sikap tidak peduli.

Sex in the kost
Puluhan ribu mahasiswa yang datang ke Padang seakan memberi berkah bagi penduduk asli. Tempat kost muncul bak jamur di musim hujan, baik dalam skala pemondokan atau hanya pengisi kamar kosong.
Suatu malam, di salah satu tempat kost tampak berjejer beberapa kendaraan roda dua di pelataran parkirnya. Di teras rumah tampak sepi seperti tak berpenghuni, hanya suara musik yang keras terdengar dari dalam kamar.
Dengan berpura-pura mencari tempat kost bagi laki-laki, Singgalang mencoba menanyakan di mana rumah pemilik kost kepada salah seorang penghuni kost yang kebetulan keluar.
“Ibuk kost lagi tidak ada di rumah, mungkin di rumahnya yang lain,” ujar mahasiswa salah satu PTS yang bernama Putra.
Berdalih ingin melihat sepintas tempat itu, Singgalang diperbolehkan masuk lebih jauh ke dalam tempat kost itu. Saat masuk, alangkah berbeda suasana yang ditemui. Meski di depan tempat itu dikatakan menerima penghuni kost laki-laki, tapi di dalamnya wanita tidak kalah banyak.
“Di tempat ini campur tempat kostnya. Lantai 1 perempuan, sedangkan lantai II laki-laki,” jelas Putra.
Meski tempat itu tidak terlalu bersih, tapi penghuninya cukup padat. Menurut penjelasan Putra, di sana penghuni bisa betah karena mendapat kebebasan dari pemilik kost.
“Yang penting itu kita bisa bebas. Asal uang kost lancar, ibuk kost tidak akan rewel” katanya lagi.
Dari segi tarif pun tempat itu termasuk mahal dari tempat kost yang ada di sekitar. Untuk satu orang penghuni dipatok harga hingga Rp200 ribu belum termasuk uang listrik dan air. Tapi harga bisa berbeda jika penghuni itu mengambil kamar sendiri, yang dipatok harga hingga Rp350 ribu.
Putra yang tergolong dari keluarga kaya disegani di tempat kost itu, setiap ada yang datang selalu menyapa dirinya. Saat ditanya tentang kebebasan seperti apa yang ada di tempat itu, Putra tidak sungkan bercerita buka-bukaan.
“Di sini bawa cewek nginap juga bisa bos, asal pandai-pandai saja sama penghuni lain,” ujarnya seperti berlagak seperti jawara di tempat itu.
Belum lama berselang, ucapan Putra terbukti benar, satu orang penghuni laki-laki datang dengan pacarnya yang bukan penghuni tempat itu.
Dengan menaikan alis matanya, laki-laki itu minta izin untuk langsung ke kamarnya yang berada paling pojok. Berselang beberapa saat kemudian, laki-laki itu keluar lagi dengan membawa satu bungkus rokok dan cemilan untuk menemani kami berbincang.
“Ada urusan bentar bang,” kata laki-laki itu kepada Putra.
Tidak itu saja, menurut Putra di tempat itu antara penghuni kost ada juga yang pacaran. Bahkan mereka pindah ke tempat itu karena mereka ingin dekat 24 jam, tanpa dibatasi waktu dan jarak.
Kadang sesama penghuni saling tukar pasangan kamar, dan tidak ada rasa risih di antara mereka. Mungkin karena niatnya memang itu, atau sudah ketularan budaya barat yang menghalalkan hubungan intim sebelum nikah.
Kisah tidak jauh berbeda ditemui Singgalang saat menyambangi salah satu tempat kost kawasan Lubeg. Di tempat itu memang tidak dicampur, tapi penghuni laki-laki di tempat itu tetap boleh membawa teman wanita, tanpa harus menginap.
“Di sini boleh bawa pacar tapi tidak boleh menginap,” kata Iman, salah seorang penghuni kost.
Meski di depan tempat itu ada tulisan dilarang membawa tamu lawan jenis ke dalam kamar, tapi itu hanya sekadar simbol belaka.
Anehnya, tempat itu berada dekat dengan rumah warga lain. Tapi tidak ada teguran terhadap penghuni kost itu, bahkan pemuda setempat kadang ikut bergabung dengan penghuni kost.
Jika tempat kost seperti ini tetap ada di Padang, bukan mustahil angka maksiat dan aborsi kian tinggi.
Akhir cerita, deretan kisah yang dilukiskan Singgalang bertujuan untuk membuka mata dan telinga seluruh komponen masyarakat dan pemerintah, tentang rahasia kehidupan malam di Padang. Agar nantinya, bisa disikapi dengan bijak dan menemukan solusi yang tepat, humanis dan berdampak bagi banyak orang. (*)

wdcfawqafwef