Untuk Sebuah Aura GBK (1)

Baru sempat nulis setelah pulang dari perjalanan yang  dengan cerita lucu dan menarik
Jam 07.15 sampai di bandara Internasional Minangkabau, langsung ke dalam untuk cekin kata orang, tapi saya baru pertama untuk itu, berangkat berdua sama bg Fefri Rusji (Adjie/Ipep), saya sajalah bg yg kesana, skalian cobain gimana rasanya kata saya.
Masuk pesawat sambil sandang tas, dan kamera digantung di leher, berangkat cuiii, ya mulai terasa gemeteran, dan ternyata yang dirasakan sangat mengejutkan.
Sampai di bandara Soekarno Hatta Jakarta, langsung jalan keluar sambil jepret jepret, setiap momen jadi jepretan, tanya salah satu penyedia angkutan di dalam bandara,”ke GBK brapa ya mbak?,oo ya udah, maskasih mbak, hahaha
Sambil jepret dan jalan keliling bandara, sampai digerbang bandara, terlihat rumah makan Padang, ya sudah, kita makan dulu, dengan memesan 2 nasi dengan ikan goreng dan dadar. (sampai di jakarta masih cari masakan padang). Setelah makan, diskusi dulu, kemana rute kita hari ini?, kemana kita?, dengan apa kita pergi?, setelah dirapatkan, keputusanpun dapat, tapi tidak sesuai dengan rencana, kembali ke halte bandara, tanya taksi, ga cocok, tiba tiba datang bapak bapak nawarin travel atau mobil sewaan, ya sudah nego demi nego akhirnya dapat kesepakatan sewa sampai jam 10 malan nanti.
Capcusss, brangkat dengan avanza yang sopirnya benama  Nopi, katanya orang bengkulu dia, kita langsung ke Manggarai dulu, nukarin voucher jadi tiket nonton bola di GBK, yaappsss,,,10 menit perjalanan huja turun dengan lebatnya, ga terbayang ya, kalau tadi kita naik dan turun angkot dengan kondisi seperti ini, hujan, macet dan dengan segudang kesibukan kota jakarta.
Setelah dapat karcis, langsung ke Senayan, ahh masih sepi belum ada yang datang untuk nonton bola, ya sudah, cari pengganjal perut dulu, somay pun jadi sasaran. Masih lama sebelum nonton bola, masih jam 3 sore, terdengan di gedung sebelah ada sorakan, In do ne sia . . . . in do ne sia . . . ternyata ada Final bulutangkis beregu Putra, langsung menuju TKP., samapi dinasa, ternyata tiket habis, yang ada Cuma di tangan calo, ya sudah, demi sebuah hobi, mari kita beli tiket calo itu, yaa para calo pun langsung mengantar ke pintu masuk.
Luarrr biasaaaa,,stresss saya mendengar teriakan histeris pendukung indonesia.,, baru kali ini saya merasakan teriakan sebegitu hebat, ditambah lagi karena arena yang tertutup. Nonton pertandingan hingga selesai, dan penyerahan medali Emas kepada Tim Indonesia sebagai pemenang setelah menaklukkan malaisya.
Belum lagi selesai penyerahan medali, sepakbola Indonesia vs Iran pun sudah dimulai, berlari larilah kami ke stadion sepak bola, dengan harapan merasakan aura dari SUGBK yang sering dilihat di Tv itu sangat menggemparkan, dengan semangat dan berpacu kesana, tapi apa mau dikata, sampai dalam stadion, ditemukan berwarna warni didalamnya, sangat ramai sekali bangku yang kosong, orangnya bisa dihitung dengan jari, waktu kami masuk skore pun sudah 0-1,,ahhh apalah ini ha, kecewa saya, tapi ya sudahlah, kamera kan ada, foto foto sajalah kita sebagai kenang kenangan. Hawa SUGBK pun gagal didapatkan. Babak pertama saja ditonton, pulang pun jadi sasaran.(bersambung)

wdcfawqafwef