Menjerit Karena Harga Gambir tidak naik, terpekik lagi ketika Harga Karet Anjlok


Sudah banyak yang didengar, diresapi dan dialami sendiri. Tulisan ini saya tulis di kamar kecilku yang sudah kutinggalkan sejak 5 tahun silam sekitar jam 06.30 pagi.
Sangat banyak polemik yang menjadi pembicaraan pagi ini dengan tetangga sekitar rumah, setelah malamnya baru datang, pagi pagi stel musik, dan duduk di depan rumah menikmati dinginnya Muaro Paiti.

Pembeicaraan dimulai dari sulitnya perekonomian saat ini, disaat datangnya waktu pergantian tahun pelajaran bagi pelajar, tentunya akan memikirkan biaya untuk kelanjutan sekolah, semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Komoditi Gambir dan Karet yang menjadi tulang punggung sebagian besar masyarakat, saat ini sangat tidak bersahabat dengan masyarakat, buktinya saat ini harga keduanya tidak bisa diandalkan, sedangkan masyarakat hanya bergantung pada itu semua.
Bagi orang tua yang memiliki anak baru tamat SMA, tentu harus ekstra berfikir memutar otak untuk menyikapi hal ini, karena saat ini sebagian besar dari masyarakat (orang tua) sudah mulai berfikir akan pentingnya melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, sangat berbeda dengan 8-10 tahun silam, saat itu masih banyak para orang tua di nagari ini memiliki pemikiran kalau kuliah itu tidak penting, buktinya masih banyak yang menakut nakuti masyarakat kalau kuliah itu susah, mahal, tak ada gunanya, lebih baik ngampo, cuma menghabiskan biaya, dan masih banyak lagi kata kata yang muncul tentang kuliah.
Ketika semua mulai berubah, ada niat untuk melanjutkan pendidikan, sekarang harus dihadapkan dengan kenyataan harga Karet 9 ribu per kilo, harga gambir 16 ribu per kilo, dan banyak lagi persoalan lain. 
Menurut saya, saat ini bukanlah harus orang tua lagi yang berfikir keras, melainkan anaknya atau kita sebagai anak yang akan melanjutkan pendidikan harus memutar otak, bagaimana  caranya kita melanjutkan pendidikan tanpa membebankan itu semua pada orang tua, apalagi para tamatan SMA, dirasa sudah cukup matang untuk berfikir mencari cara yang baik untuk melanjutkan perkuliahan. Jangan jadi orang lemah, hanya mengandalkan orang lain, kalaulah mau berusaha dan berjuang, saya rasa kuliah itu tidak berat, banyak hal yang bisa kita lakukan di negeri orang yang bisa membantu biaya perkuliahan kita, mencari jalur masuk yang memudahkan, sampai masuk ke kampus pun bahkan lebih banyak peluang bagi kita untuk mendapatkan penghasilan yang dapat membantu perkuliaha, tapi kembali lagi ke yang tadi, kalau mau berusaha.
Tapi, tekadang kita tidak habis pikir juga melihat adanya sebagian mahasiswa yang masih belum sadar akan sulitnya perekonomian, susah orang tuanya dikampung, buktinya masih banyak yang lalai dalam kuliah, okelah bagi yang sudah kerja sambil kuliah, jadi kulianya tertunda karena sudah kerja, tapi alangkah baiknya, kuliah lancar kerja lanjut, itu kan namanya oke banget. Nah, yang satu ini kuliah tertunda, minta uang sama orang tua tiap bulan, masuk kuliah satu kali sebulan, jadi kapan selesainya?.
Tadi sempat mendengar pengakuan salah seorang tetangga, kantanya jerih payah sebagai orang tua itu hilang sudah semuanya, lenyap sudah semuanya ketika melihat anaknya di wisuda, meskipun dia belumk bekerja, tapi dengan melihat dia pakai toga, tak tanggung tanggung rasanya senang hati ini. Nah, jelas sudah, kalau orang tua kita memasukkan kita kuliah untuk di wisuda, kemudian bekerja, tapi kalau bekerja sambil kuliah, kuliah lancar, kerja sukses, kan lebih top lagi.

wdcfawqafwef